Connect with us

Feature

Pernah Hujan Air, Hujan Pasir, Dan Hujan Debu Di Kotamenara Karena Amarah Soputan

matadesa.com

MINSEL, MATADESA.com – Kotamenara, sebuah nama desa yang indah. Desa ini berada di wilayah Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) dan menyimpan banyak kisah yang menarik ditelisik jauh. Awal permukiman desa Kotamenara berada di kaki gunung Soputan. Kala itu masih bernama Lekuan.

Rakyat Lekuan berasal dari migrasi atau tumani dari Kanonang. Ia didirikan tahun 1868, dengan Hukum Tua (Kumtua) Kela Kimbal dan Tonaasnya Kellan Pantow. Hanya beberapa tahun saja sejak kampung itu dihuni, muncullah kejadian aneh. Ada seekor ular patola (piton) yang sangat besar masuk di kampung Lekuan. Oleh penduduk, ular tersebut dibunuh dan dagingnya jadi santapan lezat.

Tanpa diduga sebelumnya, sejak saat itu terjadilah serangan penyakit sampar yang dasyat. Setiap hari orang meninggal hingga lima orang. Akibat dasyatnya serangan penyakit ini, Kepala Pakasaan Tompaso Major Lolombulan Sondakh memberikan instruksi untuk segera meninggalkan kampung tersebut. Tepatnya pada tahun 1882 semua penduduk meninggalkan Desa Lekuan namun dengan tekad bahwa suatu waktu kelak anak-cucu mereka akan kembali menghuni Lekuan.

Berdasarkan permohonan rakyat kepada Pemerintah Indonesia, pada tanggal 20 April 1954 didirikanlah sebuah desa baru di wilayah Lekuan. Desa tersebut dinamakan Kotamenara yang merupakan akronim dari ‘Kanonang Oleh Tolongan Allah Mendapat Negeri Alasan Rakyat Asli’.

Tahun 1982 terjadilah bencana alam yang besar, gunung Soputan meletus. Desa Kotamenara yang berada di bawah kaki gunung vulkanik tersebut terkena dampaknya. Joyke Sondakh, Kumtua Kotamenara, bercerita bahwa kala itu ia masih berumur delapan tahun.

“Kotamenara adalah tempat yang pernah mengalami tiga jenis hujan sekaligus, yaitu hujan air, hujan pasir, dan hujan debu. Waktu itu saya ingat sedang belajar di kelas. Tiba-tiba terdengar ledakan yang sangat keras. Orang-orang berhamburan ke luar kelas. Terlihat seperti tiang hitam besar yang keluar dari mulut gunung. Ternyata gunung Soputan meletus,” ujar Joyke kala diwawancarai wartawan Zona Utara, Jumat (16/2/2018).

Setelah kejadian itu, semua penduduk Kotamenara, kata Joyke, lalu lari mengungsi. Di lokasi kampung yang ditinggalkan itu masih bisa ditemukan batu penanda pendirian kampung yang masih disakralkan masyarakat setempat.

“Rumah-rumah di lokasi Desa Kotamenara yang sekarang dibangun oleh Pemerintah. Bentuk rumah sekarang sudah banyak yang berubah karena masyarakat sudah bisa membangun rumah sendiri. Dulu bentuk rumah semua sama,” jelasnya.

 

Penulis: Rahadih Gedoan
Editor: Rahadih Gedoan

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement
  • Tak akan ada lagi perdagangan daging anjing di Karanganyar 19/06/2019
    Ada 21 warung dan rumah makan yang menjual daging anjing juga akan ditutup. The post Tak akan ada lagi perdagangan daging anjing di Karanganyar appeared first on Tak sekadar menyajikan berita.
    Ronny Adolof Buol
  • Muda, cantik dan akan ke Mars 19/06/2019
    Masih berusia 17 tahun dan menjadi astronot termuda. The post Muda, cantik dan akan ke Mars appeared first on Tak sekadar menyajikan berita.
    Novita Wenzen
  • Terpilih aklamasi, Sekkot Lolowang jabat Ketua Korpri Tomohon 18/06/2019
    TOMOHON, ZONAUTARA.com – Sekretaris Daerah Kota (Sekkot) Harold V Lolowang terpilih menjadi Ketua Korpri periode 2019-2024. Lolowang terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) Korpri Kota Tomohon tahun 2019, yang digelar di aula Inspektorat, Selasa (18/6/2019). Lolowang yang saat itu membacakan sambutan Wali Kota Tomohon yang membuka kegiatan tersebut mengatakan, Musyawarah Daerah ini merupakan sebuah […]
    Christo Senduk

Copyright © 20178 Matadesa.com. Operate by ZonaUtara.com. || design: Ronny A. Buol