Maliku, Kampung Yang Disayangi – Mata Desa
Connect with us

Feature

Maliku, Kampung Yang Disayangi

matadesa.com

MINSEL, MATADESA.com – Desa Maliku, merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel). Tim Zona Utara berkesempatan mengunjungi desa yang terletak sekitar 10 Kilometer (Km) dari pusat Kota Amurang ini.

Pemandangan asri nan sejuk bisa kita nikmati selama perjalanan ke desa yang telah dimekarkan menjadi dua desa sejak tahun 2012 tersebut. Hukum Tua Desa Maliku Ferry Pieter Pandey, sedikit mengurai sejarah terbentuknya desa yang dipimpinnya tersebut.

Di mana, sejarah desa yang diketahuinya saat ini hanya berdasarkan penuturan turun temurun dari para tetua kampung. Pasalnya, jejak sejarah asli di Desa Maliku ini hilang dan sampai saat ini belum ditemukan.

Awal mulanya, pada tahun 1600-an, kampung tersebut bernama Lalumpe yang diambil dari nama sebuah kayu. Di mana, kayu itu menjadi tempat berkumpulnya para pendatang yang mengunjungi kampung yang terletak di wilayah pegunungan tersebut.

“Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang datang ke sini. Sehingga, desa ini kemudian berganti nama menjadi Liliku yang artinya tempat kesayangan atau kampung yang disayangi. Dari nama Liliku tersebut kemudian menjadi Maliku, hingga saat ini,” ujar Pandey.

Sejak saat itu, masyarakat yang datang dan tinggal di desa yang berada di wilayah kaki Gunung Soputan ini pun semakin bertambah banyak. Kini tak terhitung lagi tonaas hingga kepala desa yang telah memimpin kampung tersebut.

Di sisi lain, kejadian menarik pun disebut pernah terjadi di desa ini. Kejadian tersebut pun disebut “padi bergoyang”, yang terjadi pada tahun 1952. Di mana, berdasarkan cerita turun temurun dari para tetua, saat itu, padi yang sudah disimpan di rumah petani bergerak seperti mata air, jadi lama-kelamaan menjadi banyak.

Bahkan, padi-padi itu yang kemudian dibawa ke daerah Bolaang Mongondow (Bolmong) yang sekarang sudah menjadi sentra beras. Tak hanya padi, hal serupa juga terjadi pada cabai yang baru saja dipanen oleh petani di desa tersebut.

Kini, Desa Maliku kian berkembang. Kondisi perekonomian masyarakat pun rata-rata berada pada level menengah,serta tidak terdapat masyarakat yang berada di level sangat miskin. Areal perkebunan kelapa dan juga sawah menjadi penyangga kehidupan masyarakat yang 95% berstatus petani.

 

Penulis: Christo Senduk
Editor : Christo Senduk

Hosting Unlimited Indonesia
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement
  • Kisah cinta berujung penganiayaan, sang mantan pacar diringkus URC Totosik 19/11/2019
    TOMOHON, ZONAUTARA.com – Nasib sial dialami wanita berinisial GL (18), warga Tataaran, Kabupaten Minahasa, Selasa (19/11/2019) dini hari. Pasalnya, akibat menolak ajakan sang mantan untuk kembali menjalin cinta, mahasiswi ini harus mendapatkan pukulan dari mantan pacarnya, yakni RG alias Rifky (20), warga Lingkungan IV, Kelurahan Pakadoodan, Kecamatan Maesa, Kota Bitung. Peristiwa inipun diketahui oleh Tim […]
    Christo Senduk
  • LTP3G Pemuda GMIM sukses digelar 19/11/2019
    MINAHASA, ZONAUTARA.com – Latihan Tenaga Pembina Pelayanan Pemuda Gereja (LTP3G) Angkatan X Pemuda Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) sukses digelar di Wilayah Tondano Tiga jemaat GMIM Abraham Tataaran Patar, 15 hingga 17 November 2019. Kegiatan ini merupakan wadah yang strategis sekaligus upaya menempah para kader pemuda GMIM agar terus memiliki hati, wawasan, karakter dan […]
    Christo Senduk
  • Bijak hari ini: Menanam cinta 19/11/2019
    The post Bijak hari ini: Menanam cinta appeared first on Tak sekadar menyajikan berita.
    Rahadih Gedoan