Connect with us

Feature

Ketika Jalan Pedang Permesta Berakhir Di Desa Malenos

matadesa.com

MINSEL, MATADESA.com – Malenos Baru, adalah sebuah desa di Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Desa ini menyimpan sejarah penting napak tilas dari akhir Jalan Pedang yang ditempuh Permesta melawan Pemerintah Pusat Republik Indonesia (RI).

Di desa inilah, perdamaian antara Pemerintah Pusat RI dan Permesta mencapai kata sepakat. 4 April 1961, dicatat sejarah sebagai puncak perdamain tersebut. Momen itu, ditandai dengan didirikannya monumen perdamaian memperingati berakhirnya perang saudara antarkedua anak bangsa. Monumen peringatan ini dengan mudah bisa ditemukan, yakni di samping gedung Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM) Eben Hezer, Desa Malenos.

Menurut Hukum Tua (Kumtua)/Kepala Desa Malenos Senny Tutu, kesepakatan damai antarkedua belah pihak bersamaan dengan peresmian kampung Malenos Baru.

“Kampung Malenos dulunya bukan di sini. Letaknya dulu jauh ke dalam, sekarang sudah jadi perkebunan warga. Perdamaian antara Pusat dan Permesta di lokasi ini bersamaan juga dibukanya perkampungan Malenos Baru,” tutur Senny saat berbincang dengan Tim Redaksi Zona Utara, Jumat (16/2/2018).

Berdasarkan dokumentasi yang dimiliki Desa Malenos, kesepakatan damai antara Pemerintah Pusat dan Permesta di Malenos berawal saat Wakil Gubernur (Wagub) Sulut dan Tenggara (Suluteng) B Tumbelaka, berkunjung ke Malenos pada awal tahun 1961, sebagai perpanjangan tangan dari Pemerintah Pusat untuk mengadakan kesepakatan damai dengan pihak Permesta.

Wagub menugaskan Kumtua Malenos saat itu Victor A Tutu, untuk menjadi penghubung antara Pemerintah Pusat dan Pasukan Permesta. Victor Tutu juga ditugaskan mencari tempat aman untuk perundingan kedua pihak. Menindaklanjuti penugasan ini, Victor pun menunjuk Dirk Tuuk sebagai Kepala Jaga Polisi di Malenos dan segera mencari tempat aman yang dimaksud Wagub Suluteng.

Perkebunan Ritey, dekat hulu sungai Malenos dijadikan lokasi pertama perundingan. Dalam perundingan itu, pihak pemerintah diwakili Wagub Suluteng, sementara pihak Permesta diwakili oleh Johan Tambayong. Dari perundingan ini disepakati, akan ada perundingan lanjutan yang akan memertemukan pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) dan pimpinan Pasukan Permesta.

Gedung GMIM Malenos kemudian dijadikan tempat perundingan lanjutan. Di sini, perundingan selain dihadiri oleh Wagub Sulteng dari pihak Pemerintah Pusat, juga dihadiri oleh Kolonel Supangat selaku Perwira Staf Komando Daerah (Kodam) XIII/Merdeka APRI. Dari pihak Permesta, hadir Johan Tambayong dan Letnan Kolonel Wim Tenges selaku Komandan Brigade WK.III (Distrik III) Permesta.

Perundingan yang dijaga ketat oleh Batalyon A/Kompi Buaya Permesta pimpinan Kapten Anthon Tenges tersebut berjalan alot. Kedua pihak saling memahami dan bersepakat mengakhiri perang saudara. Tanggal 4 April 1961 dipilih sebagai hari upacara pembacaan Naskah Perdamaian. Lokasi yang ditentukan bertempat di Desa Malenos Baru.

Untuk memersiapkan upacara, pada tanggal 3 April 1961, Pasukan Zeni Kodam XIII/Merdeka membuat lapangan. Lokasi lapangan tersebut sekarang masuk di tiga pekarangan, yakni halaman Gereja GMIM Malenos, Rumah Keluarga G Kimbal dan Rumah Keluarga Victor A Tutu.

Tepat pada hari H, tanggal 4 April 1961, upacara pun dilaksanakan. Naskah perdamaian ditandatangani oleh kedua belah pihak. Dari pihak Pemerintah Pusat, naskah ditandatangani oleh Kolonel Sunandar Prijosudarmo selaku Panglima Kodam (Pangdam) XIII/Merdeka. Dari pihak Permesta ditandatangani oleh Kolonel D.J Somba selaku pimpinan Komando Daerah Pertempuran (KDP) II, sekaligus selaku Panglima Komando Daerah Militer (KDM) Sulawesi Utara dan Tenggara (SUT) Permesta.

Dengan ditandatanganinya kesepakatan damai ini, maka otomatis Permesta secara resmi telah kembali ke pangkuan Negara Kesatuan RI, setelah tiga tahun lebih melakukan perlawanan, terhitung dari tahun 1958 hingga April 1961. Apalagi, D.J Somba adalah salah satu tokoh penting dalam pergolakan Permesta. Dia adalah tokoh yang membacakan pernyataan sikap Permesta putus hubungan dengan Pemerintah Pusat, pada tanggal 17 Februari 1958 di Lapangan Sario Manado.

Perdamaian Permesta melalui D.J Somba, juga membuat puluhan ribu pasukan Permesta yang dipimpinnya menghentikan perlawanan. Selain itu, di bawah kepemimpinan D.J Somba juga ada salah satu dari dua Brigade terkuat yang dimiliki Permesta, yakni Brigade WK.III. Brigade yang dipimpin Kolonel Wim Tenges ini terkenal disiplin, loyal dan gigih di medan tempur, selain Brigade 999 pimpinan Jan Timbuleng yang sebelumnya telah diduga berkhianat oleh para pemimpin Permesta.

Kolonel Wim, secara militer adalah sosok yang cerdas dan ahli strategi. Kedisiplinan dan kerapihan pasukannya saat bergerak, serta moral prajuritnya menjadi pembeda utama dengan Brigade 999 pimpinan Jan Timbuleng. Meski dikenal ganas di medan tempur, Brigade 999 dinilai tidak menggambarkan satuan militer yang profesional sebagaimana Brigade WK.III.

Sekilas tentang Permesta

Permesta adalah singkatan dari Perjuangan Semesta atau Perjuangan Rakyat Semesta. Adalah sebuah gerakan militer yang ditempuh para tokoh militer di Sulawesi, terutama di Sulut, sebagai wujud protes terhadap arah politik Pemerintah Pusat RI.

Dalam buku berjudul “Permesta Dalam Romantika, Kemelut dan Misteri”, yang ditulis oleh Phill M Sulu disebutkan, bahwa permesta dideklarasikan oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual selaku pemimpin sipil dan militer Indonesia bagian timur pada 2 Maret 1957 di Makassar.

Setahun kemudian, pada 1958, markas besar Permesta dipindahkan ke Manado. Pada tanggal 17 Februari 1958 diumumkan di Lapangan Sario Manado, bahwa Permesta menyatakan putus hubungan dengan pemerintah pusat.

Dalam artikel yang dipublis zonautara.com tanggal 17 Desember 2017 berjudul “Kisah RPKAD Memburu Permesta Di Kampung Langowan”, disebutkan sebulan setelah Permesta memindahkan markasnya ke Manado, pada bulan Maret 1958 Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Nasution, mengeluarkan perintah kepada Letnan Kolonel Bardosono untuk melaksanakan Operasi Militer IV, guna memadamkan pemberontakan Permesta.

Sejak itu, selama tiga tahun lebih Permesta berjuang melawan setiap serangan yang dilancarkan APRI. Hingga pada akhirnya, mereka berhenti menempuh jalan pedang. Puncaknya, melalui kesepakatan damai di Desa Malenos, tanggal 4 April 1961.

 

Penulis: Rizali Posumah
Editor : Christo Senduk

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Warga Minsel

Copyright © 20178 Matadesa.com. Operate by ZonaUtara.com. || design: Ronny A. Buol